Sepertinya langit merindukan matahari
Tapi nampaknya awan gelap cemburu
Dengan sinar emas matahari sehingga
Kepedihannya menestekan air mata
Yang begitu deras
Biarlah, Biarkan awan menumpahkan keluh kesahnya
Aku rasa dia lebih beruntung
Daripada kau yang tak dapat
mengeluhkan kekesalan
22 des ember 2017, Samata, Gowa, Sulsel
Kamis, 09 Agustus 2018
Cinta Karaeng (karya tak sampai)
Rindu tak terbendung lagi dalam dada
Jiwa hanya ingin saling memiliki
Waktunya cinta diuji
Kau sebagai cinta yang mengakar di hati
Tak ada yang menandingi gejok kita berdua
Menggetarkan kegeraman diri mereka yang bersama mu
Menuding cinta sebagai aib
Demi diri ini
Kau tinggalkan buah hati dan cinta sah mu
Tapi apalah dayaku di hadapannya?
Maafkan aku
Kita dipisahkan oleh adat
Kita tak sederajat pun tak sekeyakinan
Maafkan cinta kami karaeng
Tak perlu lagi darah menetes karena cinta
Biar ku melangkah jauh dengan segenap rasa
15/02/17, Bulukumba, Sulsel
Jiwa hanya ingin saling memiliki
Waktunya cinta diuji
Kau sebagai cinta yang mengakar di hati
Tak ada yang menandingi gejok kita berdua
Menggetarkan kegeraman diri mereka yang bersama mu
Menuding cinta sebagai aib
Demi diri ini
Kau tinggalkan buah hati dan cinta sah mu
Tapi apalah dayaku di hadapannya?
Maafkan aku
Kita dipisahkan oleh adat
Kita tak sederajat pun tak sekeyakinan
Maafkan cinta kami karaeng
Tak perlu lagi darah menetes karena cinta
Biar ku melangkah jauh dengan segenap rasa
15/02/17, Bulukumba, Sulsel
Untuk Waktu Yang Belum Banyak Kita Habiskan Bersama (DHH)
Kau adalah Siti Nur Baya era milenium
Didudukkan pada singgasana
Diramaikan oleh hiasan janur kuning
Senangkah kau?, bahagiakah kau?
Ketika seluruh rumpunmu hanyut dalam kegembiraan
Betapa malangnya
Tak ada kuasa menandingi kedua orangtuamu
Mautpun mereka tetapkan
Mereka telah berbeda
Bukan lagi pelindungmu resah
Tapi tetaplah pegang sisi positif mereka
Meski harus banyak kau mengorbankan
Kupikir diri mu setangguh tawa
yang tergurat indah di wajahmu
Nyatanya itu topeng yang menutupi kepahitanmu
Sayang, orang-orangmu menginginkan yang tak kau kehendaki
Meranakah kau, kesakitankah kau? Ku pikir kau pasti
Ingatkah kau sketsa-sketsa yang kita rancang bersama sahabat?
Sepertinya sketsa itu tidak akan menjadi gambar utuh seperti kita kirakan
Kau hanya meninggalkan butiran air mata
Kepedihan, kapahitan, kesedihan, kesakitan
Kubalas pula meninggalkan airmata didalam sembah sujudku
berharap kau terbebas dari ketidakmampuan
Aneh, kisahmu seakan tak nyata
Hanya seperti wacana settingan pada layar kaca
Namun tak ada daya pun
Ikhlaslah walau sakit
Telanlah walau pahit
Pikullah walau berat
Rasakanlah walau menyiksa
Ini adalah skenario terbaiknya untuk mu.
07/05/18, Samata, Gowa, Sulsel
Didudukkan pada singgasana
Diramaikan oleh hiasan janur kuning
Senangkah kau?, bahagiakah kau?
Ketika seluruh rumpunmu hanyut dalam kegembiraan
Betapa malangnya
Tak ada kuasa menandingi kedua orangtuamu
Mautpun mereka tetapkan
Mereka telah berbeda
Bukan lagi pelindungmu resah
Tapi tetaplah pegang sisi positif mereka
Meski harus banyak kau mengorbankan
Kupikir diri mu setangguh tawa
yang tergurat indah di wajahmu
Nyatanya itu topeng yang menutupi kepahitanmu
Sayang, orang-orangmu menginginkan yang tak kau kehendaki
Meranakah kau, kesakitankah kau? Ku pikir kau pasti
Ingatkah kau sketsa-sketsa yang kita rancang bersama sahabat?
Sepertinya sketsa itu tidak akan menjadi gambar utuh seperti kita kirakan
Kau hanya meninggalkan butiran air mata
Kepedihan, kapahitan, kesedihan, kesakitan
Kubalas pula meninggalkan airmata didalam sembah sujudku
berharap kau terbebas dari ketidakmampuan
Aneh, kisahmu seakan tak nyata
Hanya seperti wacana settingan pada layar kaca
Namun tak ada daya pun
Ikhlaslah walau sakit
Telanlah walau pahit
Pikullah walau berat
Rasakanlah walau menyiksa
Ini adalah skenario terbaiknya untuk mu.
07/05/18, Samata, Gowa, Sulsel
Penebusan Dosa
Haruskah ku mulai dengan sekedar menyapa "hi apa kabar?"
Tapi, tak mungkin, tak akan mungkin lagi
Meskipun aku yang harus memulai
Hati ini telah tertutup banyak noda
Lalu telah kubersihkan pula noda tersebut
Sekuat tenaga dengan tetesan air mata
Tidak, iblis-iblis itu tak akan kubiarkan ambil andil lagi
Tidak akan ku biarkan mereka merasuk terlalu dalam
Tak akan ku izinkan mereka untuk ikut campur kembali
Bisakah kita seperti Devid dan Yelena saja?
Mengembalikan fitrah sebagai manusia
Memulai lembaran putih yang baru
Melupakan yang telah lalu
Kurasa ya
kita harus seperti mereka
karena ada janji yang harus ditepati
dan ada dosa yang mesti terhapuskan
01/03/18, Bulukumba, Sulawesi Selatan
Entah
senja hari itu
mengingatkan ku pada kita
kau yang belum lama ku kenal
nekad mencari jati diri ku
kau coba dekati
tapi ku menjauh
kau hampiri selangkah
aku menghindar mundur selangkah
belum berakhir juga
kau, ku pikir jiwa mu sakit
dan mungkn itu yang namanya gila
gila karena rasa yang tak bisa kau bendung di dalam dada
tapi sungguh
ku tak bisa biarkan
ku tak bisa teruskan
ku harus halangi
ku harus menghindar dari rasa
cinta mu salah tanpa ikatan
bukan lagi adat yang memisah
bukan pula derajat yang tak sama
tapi kesucian cinta yang belum patut kita rasa
adakah kau bisa usahakan
agar kita dapat berjalan
diatas cinta yang suci?
tanpa takut murka pencipta?
15/02/17 Bulukumba, Sulawesi Selatan
Sabtu, 04 Agustus 2018
Hi
Hi, kamu adalah teks yang selalu memenuhi kolom chat
Hi, kamu dibuat oleh ketukan-ketukan jari kaku
Hi telah lama kamu menemani
tapi saling tahukah kalian
tentang apa yang tumbuh di hati?
sepertinya tidak
mungkin Hi hanyalah sapaan biasa seperti kebiasaan mentari menyapa pagi
atau mungkin Hi hanyalah sapaan kaku pemecah kikuk
aduh, sungguh kau Hi, sungguh tidak mampu ku pahami, tak terbaca dan tak ku mengerti.
05/08/18 polokarto, Sukoharjo, Jateng
Langganan:
Komentar (Atom)